Aris Priyono Bapak Mangrove Indonesia pendiri KeMANGTEER

Aris Priyono, Bapak Mangrove Indonesia: Dari Membangun Mangrover hingga Mengubah Paradigma Pengelolaan Mangrove

Semarang – KeMANGTEER. Aris Priyono Bapak Mangrove Indonesia dikenal sebagai salah satu penggerak yang selama lebih dari dua dekade membangun manusia, organisasi, pengetahuan, dan berbagai inovasi dalam pengelolaan mangrove di Indonesia. Sosok Aris Priyono, Bapak Mangrove Indonesia, tidak hanya dapat dibaca sebagai seorang aktivis lingkungan atau pendiri organisasi, tetapi juga sebagai bagian dari proses panjang yang turut memperluas paradigma pengelolaan mangrove, dari kegiatan konservasi dan penanaman menuju pendekatan yang mengintegrasikan ekologi, masyarakat, kelembagaan, teknologi, komunikasi, dan keberlanjutan.

Jika pada periode sebelumnya Aris banyak dikenal sebagai Bapak Mangrover Indonesia karena keberhasilannya membangun kader, relawan, dan jaringan penggerak mangrove, maka perkembangan gerakan yang berlangsung setelahnya memperlihatkan dimensi kontribusi yang lebih luas. Aris tidak hanya membantu melahirkan orang-orang yang peduli terhadap mangrove, tetapi turut membangun sebuah cara pandang bahwa konservasi mangrove tidak cukup berhenti pada penanaman bibit. Mangrove harus dipahami melalui ekologi dan hidrologinya, dikelola bersama masyarakat, dipantau keberhasilannya, dikomunikasikan kepada publik, diterjemahkan menjadi pengetahuan yang mudah dipahami, serta dikembangkan melalui kelembagaan yang mampu bertahan lintas generasi.

Dari KeSEMaT yang lahir di lingkungan mahasiswa, KeMANGTEER yang membuka ruang bagi relawan masyarakat, IKAMaT yang memperkuat kesinambungan kelembagaan, hingga berbagai inisiatif di bidang pendidikan, rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, media, data, teknologi, dan pengembangan ekonomi berbasis mangrove, jejak Aris memperlihatkan satu pola yang relatif konsisten: membangun sistem agar mangrove tidak bergantung pada satu kegiatan, satu organisasi, ataupun satu generasi. Pendekatan tersebut pada akhirnya ikut memperluas paradigma pengelolaan mangrove dari kegiatan yang identik dengan penanaman menuju proses yang lebih komprehensif, yaitu memahami ekosistem, menyiapkan manusia, membangun kelembagaan, mengembangkan pengetahuan, dan memastikan adanya keberlanjutan pengelolaan.

Dari Menanam Mangrove Menuju Mengelola Ekosistem

Pada masa ketika kampanye rehabilitasi mangrove di Indonesia masih sangat sering diasosiasikan dengan kegiatan penanaman, Aris bersama lingkungan KeSEMaT sejak awal mendorong pendekatan yang lebih luas. Penanaman tetap penting, tetapi keberhasilan konservasi tidak dapat hanya dihitung dari jumlah bibit yang masuk ke dalam substrat. Kondisi hidrologi, karakteristik lokasi, kesesuaian jenis, dinamika sedimentasi, keterlibatan masyarakat, pemeliharaan, pemantauan, serta keberlanjutan kelembagaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses rehabilitasi.

Cara pandang tersebut kemudian berkembang seiring pengalaman lapangan KeSEMaT dan berbagai organisasi yang lahir setelahnya. Mangrove mulai ditempatkan tidak hanya sebagai tumbuhan yang harus ditanam, tetapi sebagai ekosistem yang harus dipahami dan dikelola. Pergeseran ini penting karena membantu mengubah orientasi kegiatan dari sekadar pencapaian jumlah bibit menuju keberhasilan ekologis dan sosial dalam jangka panjang.

Aris kemudian memperkuat pendekatan tersebut melalui literasi. Buku Panduan Praktis Teknik Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Pesisir Indonesia yang ditulisnya pada 2010 menjadi salah satu dokumentasi pengetahuan lapangan mengenai rehabilitasi mangrove. Buku tersebut tidak hanya membahas bagaimana melakukan penanaman, tetapi juga memperkenalkan tahapan yang lebih sistematis dalam memahami lokasi, memilih teknik rehabilitasi, dan melakukan pengelolaan setelah penanaman. Dalam perkembangannya, karya tersebut ikut digunakan sebagai referensi dalam berbagai publikasi akademik dan kegiatan rehabilitasi mangrove di Indonesia.

Membangun Manusia sebelum Membangun Gerakan

Salah satu karakter paling kuat dari perjalanan Aris adalah kesadarannya bahwa keberlanjutan konservasi tidak mungkin hanya mengandalkan kegiatan lapangan. Ekosistem dapat dipulihkan apabila ada manusia yang mampu memahami, menjaga, dan meneruskan pengelolaannya. Karena itu, proses kaderisasi menjadi bagian penting dari berbagai organisasi yang dibangunnya.

KeSEMaT menjadi ruang awal untuk melatih mahasiswa memahami ekologi mangrove, melakukan penelitian, berkomunikasi dengan masyarakat, mengorganisasi kegiatan, menulis, berkampanye, serta membangun jejaring. Dari organisasi mahasiswa tersebut kemudian tumbuh kebutuhan untuk memberikan ruang kepada masyarakat yang lebih luas. Tidak semua orang yang ingin bergerak untuk mangrove dapat menjadi anggota KeSEMaT, sehingga diperlukan sebuah wadah baru yang lebih terbuka.

Dari kebutuhan tersebut kemudian lahir KeMANGTEER, yang secara resmi diperkenalkan pada 6 November 2009. Organisasi ini menjadi salah satu terobosan penting karena memperluas gerakan mangrove dari ruang mahasiswa menuju masyarakat umum. Pelajar, mahasiswa dari universitas lain, pekerja profesional, fotografer, komunitas, dan masyarakat dapat terlibat sebagai relawan tanpa harus memiliki latar belakang akademik tertentu. Dari sinilah konsep mangrover berkembang bukan hanya sebagai sebutan bagi orang yang mengikuti kegiatan mangrove, tetapi sebagai identitas bagi mereka yang memilih untuk belajar dan bergerak menjaga ekosistem pesisir.

Dari Peserta Menjadi Penggerak

KeMANGTEER kemudian membawa gagasan penting yang menjadi bagian dari perjalanan Aris dalam membangun gerakan, yaitu open source dan bottom-up. Gerakan mangrove tidak harus selalu dibangun dari pusat dan kemudian diperbanyak melalui cabang yang seragam. Sebaliknya, masyarakat di berbagai daerah diberikan ruang untuk membentuk, mengembangkan, dan menyesuaikan kegiatan berdasarkan persoalan mangrove di wilayah masing-masing.

Pendekatan ini membawa perubahan penting dalam hubungan antara organisasi dan relawan. Seseorang tidak lagi hanya diposisikan sebagai peserta yang menunggu kegiatan, tetapi didorong menjadi penggerak yang mampu menciptakan kegiatan. Regional KeMANGTEER yang kemudian tumbuh di berbagai kota menjadi bukti bahwa satu gagasan dapat berkembang ketika kepemilikannya diberikan kepada banyak orang.

Dalam konteks tersebut, kemampuan Aris bukan hanya berada pada pengelolaan mangrove sebagai ekosistem, tetapi juga pada pengelolaan manusia sebagai bagian dari sistem konservasi. Regenerasi, distribusi kepemimpinan, pendidikan, identitas bersama, dan pemberian ruang kepada generasi baru menjadi bagian dari strategi keberlanjutan yang sama pentingnya dengan rehabilitasi ekologis.

Mengubah Mangrove Menjadi Gerakan Pengetahuan

Kontribusi lain yang memperluas paradigma tersebut adalah upaya membawa mangrove keluar dari bahasa teknis menuju komunikasi publik yang lebih mudah dipahami. Aris dan ekosistem organisasi yang dibangunnya menggunakan artikel, buku, blog, komik, film, musik, seminar, televisi, media sosial, hingga berbagai kegiatan kreatif untuk memperkenalkan mangrove kepada kelompok yang lebih luas.

Karakter Mat Kesem, penggunaan Salam MANGROVER!, hingga gagasan “Mangrove Is Lifestyle” menjadi bagian dari strategi tersebut. Mangrove tidak lagi hanya hadir sebagai istilah ilmiah yang dibicarakan dalam ruang akademik, tetapi dibawa masuk ke dalam budaya populer, pendidikan anak muda, aktivitas komunitas, kewirausahaan, teknologi, dan kehidupan sehari-hari.

Perubahan komunikasi ini memiliki dampak yang tidak sederhana. Ketika masyarakat memahami mangrove dengan bahasa yang lebih dekat, kemungkinan untuk membangun kepedulian dan partisipasi menjadi semakin besar. Dalam konteks inilah Aris ikut memperluas paradigma konservasi dari menjaga objek lingkungan menjadi membangun budaya kepedulian terhadap lingkungan.

Dari Konservasi Menuju Ekosistem Pengelolaan Mangrove

Perjalanan berikutnya menunjukkan bahwa gagasan tersebut terus berkembang. Mangrove kemudian tidak hanya ditempatkan dalam konteks rehabilitasi, tetapi juga dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat pesisir, ekowisata, pendidikan, riset, data spasial, teknologi, ekonomi kreatif, hingga pembahasan karbon dan perubahan iklim. Berbagai organisasi dan inisiatif yang tumbuh dari lingkungan KeSEMaT dan IKAMaT memperlihatkan bagaimana sebuah gerakan konservasi dapat berkembang menjadi ekosistem pengelolaan mangrove yang multidisipliner.

Perubahan tersebut juga mencerminkan perkembangan paradigma pengelolaan mangrove di Indonesia secara lebih luas. Pendekatan yang dahulu sangat identik dengan penanaman semakin berkembang menuju rehabilitasi berbasis kondisi ekologis, pemulihan hidrologi, pemberdayaan masyarakat, pemantauan, pengelolaan kawasan, preservasi, serta integrasi antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Aris bukan satu-satunya tokoh yang mendorong transformasi tersebut, tetapi melalui organisasi, literasi, kaderisasi, dan berbagai inisiatif yang dibangunnya, ia turut menjadi bagian penting dari perubahan cara pandang tersebut.

Bapak Mangrove Indonesia dan Ekosistem yang Dibangunnya

Sebutan Bapak Mangrove Indonesia pada akhirnya tidak perlu dimaknai sebagai klaim bahwa perkembangan mangrove Indonesia lahir dari satu orang. Konservasi mangrove di Indonesia dibangun oleh masyarakat pesisir, akademisi, peneliti, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, perusahaan, komunitas, dan banyak tokoh yang telah bekerja selama puluhan tahun. Namun, Aris memiliki posisi yang khas karena sebagian besar kontribusinya diarahkan bukan hanya pada satu kawasan atau satu proyek, tetapi pada pembangunan ekosistem gerakan yang memungkinkan semakin banyak orang dan institusi ikut bekerja untuk mangrove.

Ia ikut membangun mahasiswa menjadi peneliti dan penggerak melalui KeSEMaT, membuka ruang partisipasi masyarakat dan relawan melalui KeMANGTEER, serta memperkuat kesinambungan gerakan melalui IKAMaT. Dalam perkembangannya, Aris juga menginisiasi dan mendorong lahirnya berbagai platform, organisasi, dan unit pengembangan yang memperluas cara kerja mangrove dari konservasi menuju pendidikan, data, teknologi, komunikasi, ekonomi, kreativitas, hingga aksi kolaboratif. Ekosistem tersebut antara lain mencakup KeAMaT sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan kapasitas, Mangrove Data untuk penguatan basis data dan pengetahuan mangrove, serta Mangrover Unite sebagai ruang kolaborasi dan jejaring penggerak mangrove.

Di sisi pengembangan layanan dan unit bisnis, lahir pula KeMANGI, MANGROVEMAGZ, Mangrove Creative, Mangrove Map, Mangrove Tag, serta Mangrover, yang masing-masing membawa isu mangrove ke ranah konsultasi dan pengembangan, media, industri kreatif, pemetaan, teknologi pemantauan, hingga layanan profesional. Perkembangan tersebut kemudian semakin diperluas melalui IKLIMaT (PT Inovasi Karya Lestari KeSEMaT) yang membawa pengalaman panjang pengelolaan mangrove menuju pendekatan profesional di bidang lingkungan, perubahan iklim, karbon, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui jaringan inisiatif tersebut, mangrove tidak lagi diposisikan hanya sebagai objek konservasi atau kegiatan penanaman, tetapi berkembang menjadi sebuah ekosistem pengetahuan dan pengelolaan yang menghubungkan manusia, organisasi, sains, teknologi, media, kreativitas, ekonomi, dan aksi lingkungan. Dalam proses inilah kontribusi Aris terlihat semakin luas: bukan hanya mencetak mangrover, tetapi turut membangun berbagai instrumen dan institusi yang memungkinkan pengelolaan mangrove berkembang, beradaptasi, dan menjangkau semakin banyak sektor di Indonesia.

Warisan Terbesarnya Bukan Hanya Mangrover

Jika pada masa sebelumnya Aris banyak dikenang karena berhasil melahirkan generasi mangrover, maka perkembangan hari ini menunjukkan bahwa warisannya lebih luas daripada itu. Mangrover merupakan manusia yang menjalankan gerakan, tetapi di belakang mereka terdapat sebuah paradigma mengenai bagaimana mangrove seharusnya dipahami dan dikelola. Penanaman harus didahului pengetahuan, konservasi harus melibatkan masyarakat, rehabilitasi harus dipantau, organisasi harus memiliki regenerasi, informasi harus dapat diakses publik, dan gerakan harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Karena itu, kontribusi Aris dapat dibaca melalui dua lapisan yang saling melengkapi. Lapisan pertama adalah membangun manusia, yaitu menciptakan ruang bagi lahirnya generasi mangrover. Lapisan kedua adalah membangun cara berpikir, yaitu turut mendorong perubahan dari paradigma menanam mangrove menjadi paradigma mengelola ekosistem mangrove secara lebih utuh.

Dua proses tersebut berjalan beriringan. Tanpa manusia yang memiliki kapasitas dan kepedulian, pengetahuan tidak akan bergerak. Tanpa paradigma pengelolaan yang benar, semangat relawan dapat berhenti pada kegiatan seremonial. Ketika keduanya dipertemukan, konservasi memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Dari Akar Mangrove Menuju Akar Perubahan

Lebih dari dua dekade setelah perjalanan itu dimulai, tantangan mangrove Indonesia telah berubah. Krisis iklim, penurunan muka tanah, abrasi, perubahan penggunaan lahan, tekanan pembangunan, kebutuhan restorasi, perdagangan karbon, hingga pentingnya perlindungan biodiversitas menghadirkan persoalan yang jauh lebih kompleks dibandingkan ketika KeSEMaT pertama kali berdiri pada 2001. Namun, prinsip yang dibangun sejak awal tetap relevan: mangrove tidak dapat diselamatkan hanya dengan menanam pohon; mangrove membutuhkan manusia, pengetahuan, kelembagaan, kolaborasi, dan pengelolaan jangka panjang.

Di situlah perjalanan Aris Priyono memperoleh makna yang lebih luas pada zamannya. Ia bukan hanya bagian dari sejarah lahirnya mangrover, tetapi bagian dari proses panjang yang ikut mendorong mangrove menjadi gerakan pengetahuan, gerakan masyarakat, dan bidang pengelolaan yang semakin diperhitungkan di Indonesia.

Pada akhirnya, sebutan Bapak Mangrove Indonesia tidak hanya berbicara tentang seorang tokoh yang menanam mangrove, tetapi tentang seseorang yang selama lebih dari dua dekade membangun manusia untuk menjaga mangrove, membangun organisasi untuk mempertahankan gerakan, membangun pengetahuan untuk memperbaiki praktik, dan turut membangun paradigma baru mengenai bagaimana ekosistem mangrove Indonesia seharusnya dikelola. (ADM).

Scroll to Top